ISTRIKU MEMILIH BUNGKAM


Ilustrasi (Foto: Shutterstock)


 Hari ini aku resmi memiliki dua istri. Pernikahan kedua nekat kulakukan meski tahu apa konsekuensi ke depan.


Bagi Armila ini pasti berat, tapi seiring waktu ia akan terbiasa. Aku akan berusaha maksimal menjadikan kehidupan dua rumah tangga ini berjalan harmoni. Harapannya takkan ada yang tersakiti di kemudian hari.


Armila kuizinkan pulang ke rumah orang tuanya saat hari pernikahan ini. Nanti kujemput jika seminggu sudah kuhabiskan waktu bersama Resti.


"Mas."


Sapaan lembut Resti mereka membuyarkan lamunanku. Seketika kesadaran hadir bahwa aku tengah ada di antara banyak manusia.


*


Malam pertama kulewati bersama Resti. Begitu indah dan meledak-ledakan rasa. Hampir-hampir bayang kesedihan Armila hilang dari cerukan kepala.


Aku seperti kembali ke masa tiga tahun lalu. Ketika hari pertama mencicipi madu malam pengantin bersama Armila. Kini, lautan nikmat itu kureguk kembali bersama Resti.


"Mas," bisik Resti ketika fajar telah menyingsing.


Kemanjaan ini sangat kusukai. Kerling nakal dan senyum termanis membuatku seperti kesurupan semalam. Sampai tidur amat lelap hingga terlupa untuk membuka mata.


"Bobo lagi," balasku sambil merekatkan pelukan.


"Is, ayo bangun, katanya mau jalan-jalan."


Ya, ampun aku lupa sama sekali telah menjanjikan melewati pagi di kitaran villa ini. Baiklah, Sayang aku akan memberimu kebahagian sempurna.


Ayo jalan-jalan! 


*


Hari ini aku menjemput Armila dan anak kami. Karena takut diinterogasi, aku cepat-cepat membawanya pergi. Meski heran, papa mertua tak bisa mencegah. Mungkin pikirnya aku sudah sangat rindu pada putrinya.


Sepanjang jalan kami jadi canggung. Bibir yang biasa merayunya mendadak kehilangan kemampuan bicara. Jangankan rayuan, sapaan pun tak keluar.


Armila lebih parah. Ia mengarahkan pandangan keluar jendela. Tak bergerak sama sekali sejak masuk mobil hingga keluar lagi.


Kesunyianlah yang menemani kami.


Tak apalah, mungkin belum terbiasa. Nanti pasti kembali seperti semula. Aku harus memberi Armila waktu untuk menata hati, menerima kondisi berbagi suami. 


Sesampainya di rumah, Armila langsung membawa bayi kami masuk kamar. Aku mengikutinya hingga langkah kami sejajar. 


Untuk mencairkan suasana, aku melingkarkan tangan di pinggang. Ingin bicara sebenarnya, tapi mulut ini tertahan.


Di kamar, Armila memberi ASI pada putra pertama kami. Ia ingin anaknya kembali tidur sebab memang belum lelap terlalu lama.


Aku sengaja merapatkan tubuh di sisinya sebagai cara lain mencairkan suasana. Ternyata Armila belum merespon. Ia hanya fokus pada putra kami.


Lepas menidurkan Affan, aku langsung merengkuh tubuh Armila. Aku bukan hanya ingin mencairkan suasana, tapi juga rindu padanya.


Meski ada Resti, perasaanku pada Armila tetap sama. Cinta dan selalu rindu. Hanya saja, kini berbeda. Kami tak bisa tiap hari bersama sebab ada istri lain yang harus kutemui juga.


"Aku kangen."


Seperti apapun aku merangkai kata, Armila tak merespon. Ia diam saja meski kuberi sentuhan liar.


"Kamu sakit?"


Armila diam


"Kalau begitu istirahat saja."


Armila tetap diam.


"Aku ambilkan minum, ya!"


Armila masih diam.


Akhirnya aku tak berkata lagi sebab bingung harus berkata dan bersikap apa.


"Sayang," bisikku lagi.


Wanitaku tetap diam.


*


Esoknya, Armila tetap diam. Ia menyediakan sarapan dan menemani makan tapi tanpa bicara satu kata pun.


Hingga siang dan sorenya Armila tetap tak bicara. Pun ketika malam kembali datang. Hanya tangis Affan yang masuk ke telinga ini.


Perubahan sikap Armila membuatku merasakan satu hal. Dunia ini menjadi sepi, sunyi.


*


ARMILA


Akhirnya aku menyerah dengan keputusan mas Andra menikah lagi. Hal itu bukan karena ikhlas, tapi sudah tak tahan dengan omongannya yang tiap saat tak berhenti. Ia bilang tak ingin terjebak zina dengan mantan pacarnya sewaktu di kampus, ingin menjaga diri dari godaan setan. Entah, apakah itu benar atau tidak? 


Rupanya mas Andra diam-diam bermain api dengan Resti, mantan pacarnya di kampus dulu. Mereka sudah menjalin hubungan asmara sekitar enam bulan. Dan, aku tak pernah curiga sama sekali pada kisah-kasih terlarang itu. Terlalu percaya atau bodoh, sih aku?


"Aku akan berlaku Adil, Mah. Aku janji!" Itulah ucapan mas Andra yang terus ia gaungkan di rentang waktu menuju pernikahannya. Dibumbui ribuan janji tentu 


Aku tak bersedia memberi tanggapan. Jangankan untuk percaya akan ada keadilan, ikhlas saja belum hadir pada diri ini. Aku diam itu tersebab kelemahan, bukan kerelaan.


Kalau bukan karena anak masih bayi dan menjaga perasaan orang tua, aku sudah ingin mundur sebenarnya. Lebih baik jadi janda daripada harus menanggung sakit hati sepanjang hari. Namun, aku juga tak bisa egois menjadikan Affan kehilangan sosok ayah di usia dini. Juga mencoreng arang di wajah bapak. 


Biarlah aku yang berkorban, asal Affan tetap lengkap dalam asuhan mama dan papanya juga orang tua tetap bahagia. Luka yang digoreskan mas Andra, akan kutanggung sendiri. Dia hanya boleh tahu mama dan papanya baik-baik saja. 


*


Saat hari pernikahan itu, aku diminta untuk hadir. Katanya sebagai bukti pada khalayak bahwa istri pertama sudah ikhlas. Namun, aku menolak dengan argumen logis bahwa itu urusannya bukan urusanku. Jangan pernah merejamkan belati pada hati yang jelas-jelas tengah mengalirkan darah. 

 

Sekaligus aku juga bilang jangan pencitraan seolah semua baik-baik saja, padahal aslinya tidak. Dan, tak perlulah ingin dinilai mampu poligami dengan berlindung di balik nama keikhlasan istri pertama. Dia diam mendengar jawaban itu. Lalu, berhenti merayu agar istrinya ini datang.


Tepat di hari pernikahannya, aku memilih pergi ke rumah orang tua.Itu kulakukan bukan untuk mengadukan kepedihan. Namun, hanya ingin memenangkan diri. Setidaknya ada teman ngobrol untuk memalingkan diri dari sakit yang menghunjam hati. Mas Andra pun mengizinkan, asal nanti mau pulang saat ia menjemput. 


*


Aku menatap gulungan awan di petang jelang senja. Semakin kutembus gumpalan kabut itu, semakin larut jiwa ini di dalamnya.


Aku seperti arakan awan yang terombang-ambing oleh embusan angin. Pecah, terserak. 


Itulah hatiku kini, laksana awan yang tercecer di langit sana. 


Dalam keremangan, aku sendiri, tanpa seseorang yang terbiasa ada di sampingku. Merangkul dan mendekap erat tubuh ini. Ia dulu selalu berusaha menghalau embusan angin menggigilkan raga.


Itu dulu. Sekarang, lelakiku pastilah sudah melupakan kebahagiaan yang pernah kami renda. Di hati dan jiwanya hanya ada satu perkara, yaitu mereguk indahnya malam pertama bersama Resti.


Dadaku bergemuruh seiring ingatan yang terus terisi adu syahwat pasangan baru itu. Air mata yang telah berjatuhan kubiarkan mengalir di pipi, lalu meluncur dan jatuh di antara tangan ini. 


Sesakit ini menyadari namaku sudah tak lagi bertahta di hati mas Andra. Mungkin telah tergeser sempurna oleh wanita pujaannya. Wanita yang mampu membuatnya memaksaku menyerah, kalah!


'


Aku takkan menuntut cerai, tapi tak bisa juga melapangkan hati menerima kisah segitiga ini. Aku telah memutuskan belajar membekukan hati agar tak terus disulut kobaran api cemburu.


Mulai kini, rasa padanya akan pelan-pelan kumatikan. Bilapun tetap bersama, ia takkan menemukan diriku yang dulu. Semua akan berubah seperti ia mengubah cintanya yang menggebu.


Aku melayani semua keperluan mas Andra, tapi dalam kebisuan. Sapaannya, rayuannya kuanggap bisikan angin malam yang tak perlu ada tanggapan. 


Kututup telinga, juga bibir ini darinya. Biar, biar ia paham sesakit apa hatiku kini.


Silakan kau nikmati keindahan bersama Resti sesukamu. 


Tapi, kau akan kehilangan hati, cinta dan rasaku untuk selamanya.


Jikapun dengan sikap ini aku dibuang, tak masalah. Justru itu yang kuinginkan. Agar tak ada pandangan jelek dari orang tua kita padaku.


Tentang Affan, sudah kukaji ulang, ia akan kuberikan cinta luar biasa meski tak bersama dirimu. 


*


Satu bulan aku bungkam, satu bulan itu juga mas Andra kelabakan.


Ia pasti stress, istri yang senantiasa menyambut dengan senyum dan kerling manja tak ada lagi. Sentuhan hangat dan pelukan tiba-tiba pun sirna. Yang ada hanya sosok manusia tanpa rasa. 


"Marahlah padaku, pukullah aku, tampar aku, tapi tolong bicaralah, bicaralah Armila! Kumohon katakan sesuatu padaku. Hinaan, makian pun boleh, lakukan sepuasmu. Please Armila, Please!"


Mas Andra menjatuhkan dirinya di kaki ini. Ia memeluknya. Tangisan itu seyogyanya dapat mencairkan hati, tapi tidak bagiku. Sebab aku telah membeku.


Inilah caraku membalas sakit hatiku, Mas! Nikmatilah drama ini hingga kau tak tahan lagi. Jadi, jikapun ada perpisahan itu bukan dari sisiku, tapi dari sisimu. 


*

Penulis

Hanin Humayrohumayro

Postingan populer dari blog ini

Ciri-ciri lemah jantung

BALASAN SEBUAH PENGHIANATAN

LINK SLOT GACOR TERBARU 2022